Curhat : please return my toys….


sekedar curhat atas kejadian semalem…

Semalem, saya nyampe rumah jam 06.00, selesai memarkir kendaraan dan mengucap salam, saya melihat ada anak tetangga yang lagi (atau masih ya?😀 ) berada di rumah saya..usianya baru 2,5 th dan rumahnya-pun berhadapan dengan rumah kami.. Sebenarnya orangtua nya sudah berusaha membujuknya untuk pulang, tapi si anak kayaknya masih “betah” mainan sama syauqi.

Perjalanan Kantor – rumah yang berjarak 50 kilo, lumayan bikin cape juga ( Meskipun saya hanya jadi penumpang di mobil). Biasanya sampai rumah, saya langsung ambil wudhu – sholat magrib – terus maenan sama syauqi. Tapi lebih sering pada saat sedang sholat, syauqi sudah nunggu di sebelah saya (sudah rindu nenen dia😀😀 ..)

Tadi malam, bergegas saya ambil air wudhu, sholat dan bergabung dengan syauqi dan temannya. Bergantian tugas dengan ibu saya, saya melanjutkan tugas ibu saya = nyuapin syauqi.. Yaaa, syauqi memang sedang susah makan (masih habis banyak, tapi suka diemut) , jadi makan sorenya agak moloor..

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00, tapi temen syauqi ini belum juga pulang. Orangtuanya kembali datang, tp si Anak (sebut saja si A) masih asyiik bermain..

Saya bilang, ” kan maen sama sama yaa?”😀

Duluu, waktu syauqi masih kecil dan belum punya mainan yang menarik (baca: dulu mainan syauqi cuman ratle, soft book, carpet piano, gitar jerapah – jadi mungkin kurang menarik untuk anak 2 th keatas), para tetangga sering membicarakan tentang si A yang gemar membawa pulang mainan temannya. Herannya, orang tuanya terkesan hanya membiarkan saja (baca : tidak ada itikad baik untuk mencegah/melarang si A membawa pulang mainan temennya). Para tetangga menduga orangtua nya tidak tahu kalo si A senang membawa pulang mainan teman(kedua orangtua si A bekerja). Tapi menurut saya, ini mustahil =>masa kita nggak ingat maenan apa aja yang sudah kita belikan untuk anak kita??

Sekitar 1 bulan yang lalu, syauqi dibeliin ayahnya mobil mobilan polisi. Harganya murah, cuman 7 ribu. Dua minggu yang lalu, ketika si A maen ke rumah, mobil mobilan itu dia bawa pulang..si A bilang, “mainannya aku bawaa yaa?” sambil berjalan keluar rumah.. Waktu itu saya hanya berpikir (ya udah lu bawa aja..skaligus warning- berarti dia sudah merasa tertarik dengan mainan syauqi – mungkin next time, bakal ada mainan syauqi yang dia bawa, dan kalo itu terjadi, tidak akan saya perbolehkan)

Waktu menunjukkan pukul 19.30. Si A mulai mengambil 2 gerbong kereta mainan syauqi, dan membawanya. Syauqi, yang sudah mengerti kalo gerbong kereta itu miliknya, lantas menunjuk nunjuk (biasanya karena dia pengen maenan – kebetulan diatas gerbong itu bisa disusun balok balok abjad)..lantas

saya : “mas, sinii dong gerbongnya? dedek syauqi nya mau maen nih, ayook kita maen sama sama yoook?”

A : “nggak mau”

saya : “ayook doong, disusun balok baloknya gini nihh, kasian syauqi, masak kepala keretanya gak punya gerbong?? kan yang namanya kereta harusnya panjang”

A : “nggak, aku mau pulang” (dan bergegas dia menuju gerbang-yang kebetulan saya tutup- sambil membawa 2 gerbong itu.)

sampai disini, saya hanya diam, menarik nafas panjang (meskipun saya jengkeel luar biasa), kembali saya berusaha membujuk si A untuk mengembalikan mainan syauqi…

saya jelas nggak ingin terlihat emosi di depan anak 2 tahun dan di depan anak saya sendiri.terlebih saat itu syauqi mulai berjalan mengikuti kami sambil menunjuk nunjuk mainann ay yang dibawa oleh A..

Mengapa saya begitu ngotot ingin mengambil mainan itu dari tangan A??? bukan karena harganya, saya membelinya hanya dengan harga 30 ribu (menurut saya esensi dari suatu mainan bukan terletak dari harganya yang mahal, tp lebih pada imaginasi si anak terhadap mainan itu). Tapi lebih Karena saya ingin memberikan contoh ke Anak saya bahwa SEKALIPUN KAMU SUKA DENGAN MAINAN TEMAN KAMU, ITU BUKAN MILIKMU, JADI KEMBALIKANLAH. NANTI KALO BUNDA ADA RIZKI, KITA BELI SAMA SAMA

kembali saya hampiri si A (yang sudah berada di pinggir gerbang- dia kesulitan membuka pagar, karena memang berat😀 )

saya : “ayook dong mas, kita maen sama sama aja, Kalo mas A mau pulang, mainannya ditinggal disini aja, itu kan punya dedek syauqi, besok kita main lagi sama sama.”

A : tetep ngotot nggak mau ngasih mainan dan berusaha membuka gerbang yang berat itu

Negosiasi antara saya dengan si A yang berjalan cukup alot ini berjalan cukup lama (kurang lebih 5 menit – lah). Dan karena ini berlangsung di gerbang rumah saya, seharusnya terdengar dari rumah si A..

Pada saat itu saya berharap, orangtua si A keluar dan mencegah/ melarang anaknya membawa pulang mainan temannya. Atau membiarkan anaknya membawa pulang mainan tersebut, sambil berkata kepada saya (atau syauqi), ” pinjam dulu mainannya yaa? besok dikembalikan..”.. SELESAI

Kenyataannya harapan tak sesuai dengan kenyataan. saya tetap bernego alot dengan si A (dengan syauqi digendongan saya). ..

saya : “mana mas mainannya, nih dedek syauqi nya nungguin,😀 ”

saya masih berusaha berkata sehaluuus mungkin, sambil tersenyum tentunya.. Akhirnya si A nyerah juga, dia memberikan mainan itu ke saya dan saya menerimanya. Namun karena saya kesulitan (karena masih menggendong syauqi), saya meletakkan mainan itu diatas bagasi mobil kami (letaknya sangat dekat dengan gerbang). Gerbang sudah saya buka, tapi apa yang terjadi?????? sebelum keluar dari pintu gerbang, dengan sigap si A hendak mengambil mainan yang saya taruh diatas bagasi mobil. Tapi dia kalah sigap, saya terlebih dahulu mengambil mainan itu. Merasa kecolongan, si A kembali masuk ke dalam rumah dan meminta mainan itu dikembalikan…

A : ” kembaliin doong, itu kan gerbong kereta akuu…”

saya : (mulai emosi – mungkin karena lelah,penat, belum mandi, belum makan sudah jam 20.00 )

“kalau itu punya A, kapan A bawa kesini, ini punya dedek syauqi” (alhamdulilah, saat mengatakan ini pun saya masih bisa bertutur halus – jadi tidak terkesan membentak- sungguh, saya takut hal ini berpengaruh ke anak saya)

Akhirnya, untuk menghindari emosi yang kian bertambah, saya masuk ke kamar sambil berkata, “Sudah, mas A pulang aja dulu, besok kita maen lagi, dek syauqi mau bobo, sudah malam”

Sementara si A,  membawa mainan syauqi yang lain dan bergegas pulang.

Ibu saya, yang kebetulan melihat hal ini mengikutinya dari belakang, hanya bermaksud mengantarkan si A pulang, karena sudah malam. Tapi sampai rumah nya, si A malah membanting pintu (mungkin takut karena diikuti ibu saya). Kemudian orang tua si A keluar, melihat ibu saya, dan berkata, “maaf ya bu, mainannya dipinjem dulu, besok pagi dikembalikan”..

dan ibu saya berkata : ” iya, soalnya itu mainan baru dibelikan, jadi syauqi lagi seneeng banget”

Di rumah….

Syauqi saya nenenin, sambil saya nasehatin.. (pada saat nenen time biasanya saya mereview kejadian yang syauqi lewati hari itu- bersama saya, meskipun tidak banyak- dan menasehatinya, kalo saya mendapat laporan dari bapak & ibu saya, tentang tingkah laku syauqi yang makin pandai . contoh : menyisir rambut eyang nya saat sedang SHOLAT!! :D)

Setelah syauqi puas nenen, saya meredakan emosi dengan makan dan setelah itu nyuci mobil!! (kebetulan mobil saya kejatuhan kotoran burung pas lagi parkir😀😀 )

Alhamdulilah... What A Day!!!😀😀

Pagi ini, sebelum saya berangkat kerja sambil ngajak syauqi muter muter kompleks (yeaah, ini biasanya para ayah yang melakukan hal ini, tapi saya gak keberatan kok ngajak syauqi muter muter sebelum saya ngantor). Si A datang ke rumah, dan mengembalikan mainan yang semalam diambilnya…

Ahhh…Akhir yang menyenangkan meskipun mainan yang lain (mobil mobilan polisi) urung dia kembalikan (mungkin orangtuanya hanya tau kalo mainan yang semalam aja yang didapat anaknya dari rumah temannya)….😀😀😀

Moral of the story :

1. anak saya belum memahami tentang arti memiliki, tapi saya ingin mengajarkannya, bahwa SEKALIPUN KAMU SUKA DENGAN MAINAN (SESUATU MILIK) TEMAN KAMU, ITU BUKAN MILIKMU, JADI KEMBALIKANLAH.

2. Saya ingin dia memahami, Bahwa segala sesuatu yang dia inginkan, tidak bisa dia miliki saat itu juga. MAKA BERSABARLAH UNTUK SESUATU YANG KAMU INGINKAN, BERSYUKURLAH ATAS SESUATU YANG KAMU MILIKI.

3. Saya bukan seorang psikolog. Saya hanya orang tua yang ingin mendidik anaknya sehingga bermoral yang baik dan bersahaja. Saya sering mendengar bahwa dalam mendidik anak, sebaiknya jangan di larang larang, nanti anaknya jadi bodoh dan nggak kreatif. saya akui, hal itu memang benar, dalam banyak hal, saya jarang melarang syauqi untuk mengeksplore segala sesuatunya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. namun, anak saya harus lah tau MANA HAL YANG BAIK UNTUK DILAKUKAN DAN MANA HAL YANG TIDAK BAIK DILAKUKAN

4. Saya dan Ayahnya syauqi sama sama bekerja. Tak banyak waktu yang bisa kita lewati dengan anak kita. namun, saya selalu berusaha re CHECK MAINAN / BARANG YANG DIBAWA ANAK KITA KE RUMAH, kalaupun ada barang yang bukan milik anak kita AJAK DIA UNTUK MENGEMBALIKANNYA KEPADA YANG MEMILIKI

Menjadi orangtua yang sempurna memang tidak gampang…

Tapi setidaknya kita bisa berusaha menjadi yang terbaik, untuk anak kita…

😀😀

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under parenting, syauqi ku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s