Kalau memang harus berjauhan..


Hari Senin, sampai kantor, buka Fb trus baca status teman

sudah hampir 2th tapi tetep belum terbiasa dengan kondisi seperti ini..

Dan komentar2 pun berdatangan. Rata rata yang comment adalah yang pernah atau sedang menjalani kehidupan yang sama, saya menyebutnya, Long distance Family.

Keluarga yang hidup berjauhan. Sudah jamak sekali ada di lingkungan sekitar saya. Bahkan orangtua saya pun menjalani nya selama hampir 4 tahun. Dan hal ini juga bukan sesuatu yg aneh di instansi tempat saya bekerja. Bahkan beberapa tetangga saya juga tinggal berjauhan satu sama lain..

Tanda makin banyak keluarga yang menjalani hidup seperti ini kah??

Tentang kehidupan keluarga kecil kami yang terpisah pisah ini, pastinya sudah banyak yg tau, diliat dari postingan postingan yg lewat. *sampe disini kok rasanya bahasaku resmi banget deh*:mrgreen:

Kalau dulu hanya saya yang merasa berat harus jauh dari suami, sekarang , perlahan rasa berat harus berpisah itu berkurang. Sekarang saya ikhlas dan nrimo dengan kondisi ini..

saya yakin bisa jalani kehidupan rumah tangga seperti ini, meski tidak selamanya.

karena saya punya syauqi. Tak boleh sedikitpun si anak ini merasa ‘sedih berkepanjangan’ waduuh bahasane, kalo ayahnya tidak ada di dekatnya.

susah?? yesss..

Ibaratnya, saat kita jatuh cinta sama orang lain dan mendapati kalo orang itu tidak selalu bisa ada di dekat kita, pasti ada aja yg hilang..

Bahkan teman kantor saya pernah bilang,

Paling sedih kalo liyat si anak manggil nama ayahnya pas dia sedang tidur, aku jadi ikutan nangis, put.

Lain lagi cerita adik ipar saya, yang kala itu, untuk pertama kalinya harus berjauhan dengan suami yang ditugaskan berlayar di kalimantan timur. Saking kangennya sama suami, dia bahkan bertanya sama anak nya..

Zihni kangen gak sama ayah?? ketika si anak menjawab iya, adik ipar saya ikut menimpali, Ibu juga kangen…

Dan mereka nangis berjamaah…πŸ™‚

Saya, pastinya banyak belajar dari keluarga long distance lainnya tentang permasalahan yang mungkin timbul karena kondisi ini. Terutama efeknya ke anak.

Jadi, walaupun bersuami:mrgreen: , saya harus menjalankan peran ganda sebagai ibu dan ayah mulai senin sampai jumat. Dengan segala keterbatasan waktu yang saya punya.

Dan se kangen apapun saya sama suami, se sedih apapun saya karena ada masalah ( di kantor maupun di rumah), Saya tidak akan pernah menangis di depan anak saya. Saya tidak ingin tampak lemah di hadapan dia..

Saya ingin jadikan perpisahan sementara antara syauqi dan ayahnya setiap minggu malam sebagai rutinitas yang biasa. Kata kata seperti, “Ayah ke Jakarta dulu ya? Nanti Sabtuu Pagi kita ketemu lagi, besok (senin) sampe Jumat, Oi nemenin Bunda dulu di rumah

Dan perpisahan mereka sekarang mulai di warnai gelak tawa, karena sambil meninggalkan Ayah di stasiun (pool bis damri lampung). jendela mobil tempat syauqi duduk kami buka, dan si ayah akan mengikuti mobil yang berjalan pelan sambil sesekali menggelitik syauqi yang tertawa tawa sambil berucap, “ketemu ayah sabtu pagi yaa??” dan syauqi masih tertawa tawa..

Eyang Bapak sempet berkata, “biarpun dulu beraat sekali, tapi sekarang adegan ini jadi adegan yang biasa buat Oi yaa?”

Sungguh biarpun syauqi tampak senang dan tertawa gembira di perpisahan itu, tapi saya jadi sedih mengetahui kalo Syauqi bisa menerima kondisi ini..😦

Sepulang dari mengantar Ayah, Biasa nya kita mampir di C4 sebentar. Kadang membeli kebutuhan rumah yang habis atau sekedar beli majalah mingguan.

Dan dalam perjalanan Pulang, biasanya saya yang sibuk bercerita dan komentar tentang hal hal yang kita temui di jalan…

Cara ini dirasa efektif untuk syauqi, ‘melupakan sejenak’ perpisahannya dengan Ayah..

Dan pernahkah syauqi memanggil nama Ayahnya tengah malam???

Tentu saja pernah, sering malahπŸ˜€

Biasanya Syauqi akan terbangun – duduk dan membangunkan saya, “Bunda, Ayah mana??”

Dan dengan tenang, akan saya peluk syauqi dalam posisi tidur sambil berucap, “Ayah di jakarta Nak, kemaren kan Oi sudah anter di stasiun? ketemu lagi hari apa yaa?”

Dan syauqi akan menjawab, ” Sabtu” ..πŸ˜€

Anak pinter, ini masih gelap, masih malam, kita bobok lagi yuuk?

Dan dia pun kembali terlelap di pelukan saya.. setelah si anak tidur, giliran saya yang meleleh.. :mrgren:

Sedih memang, tapi saya harus kuat, demi anak saya dan keluarga saya..

eh, ngomong ngomong, Karena selalu concern sama syauqi kadang saya lupa kalo suami saya juga perlu ‘perhatian’ lebih..

Maksudnya..???

Iyaa.. iyaa.. saya (sumpah) ngiri banget sama istri istri yang selalu bisa menyiapkan sarapan pagi – pakaian kerja – bahkan bekal makan siang untuk suami nya. Saya terakhir kali nyiapin sarapan pagi dan bekal makan siang waktu kita ke jakarta agustus lalu..

Bahkan saya juga kangen salim – cium tangan saban pagi dan sore sebelum dan sesudah pulang kantor. Bagi saya itu suatu kemewahan..

Kemaren saya sempet chat via Fb sama my ex- Boss wife.. usia kami hanya terpaut 1 tahun. Saya sungguh sangat iri dengannya. Gimana tidak mengiri?? opo too bahasane, Kalo si uni ini *this is the way I call her* bisa ngeladenin suaminya setiap hari. Jadi kemaren iseng saya nanya..

S ( Saya) : masak apa un?

U (Uni) : ikan goreng, sop sopan, snack sore nya kacanghijau..

see!!! see!!! even she could make cemilan 4 her hubby everyday!!!

U : Kalo mbak mah enak, ada ortu di rumah, jadi apa apa gak dipikir sendiri, gak kayak aku ini, smua mua sendiri..

S : weeeyy, emang manusiaa yaaa??? rumput tetangga selalu lebih hijau.. aku barusan mau ngetik, Iri aku sama uni, bisa ladenin suami tiap hari…

Dan akhirnya dia bilang betapa dia kagum -Ceileee!!!- sama saya yang terlihat sangat mandiri dan mobile meskipun suami tidak bisa menemani setiap saat. Dan saya pun cerita kalo saya iri setengah mati sama dia karena bisa ladenin suami tiyap hari…

Tak lupa saya bilang, biarpun terlihat mandiri, tapi saya ini macam kerupuk uni, kesiram air atau kena angin dikiit aja pasti melempem..πŸ˜€πŸ˜€

Fyuuuh, manusia.. bener kata D’massive. Intinya kita memang harus bersyukur atas apa yang ada. Krena hidup kita adalah anugerah dari Allah..

Bisa meladeni suami sendiri, memang saat ini masih jadi mimpi buatsaya.. Walaupun sebagai gantinya, setiap minggu malam saya seringnya siy eyang mama yang masakin:mrgreen: bawain bekal untuk sarapan suami di senin pagi.. yeayy, lumayan hemat dan suami pun masih merasa dekat dengan istri dan keluarga di senin pagi itu..

Ternyata jadi istri yang baik untuk suami itu tidak hanya meladeni kebutuhan suami di rumah saja. Tapi juga untuk selalu men support nya di pekerjaan..

Berbeda dengan di instansi tempat saya bekerja, Perusahaan tempat suami bekerja tidak terlalu banyak melibatkan para istri karyawannya dalam berbagai kegiatan. Yeay, kecuali acara family gathering yang waktu itu tidak bisa saya hadiri karena sibuk sama kerjaan di lampung… *SIGH*

Di kantor saya, ada perkumpulan istri istri karyawan yang punya kegiatan rutin tiap bulan. Minimal mereka kumpul untuk arisan. Atau kegiatan lain macam lomba tumpeng, lomba peragaan busana, pengajian sampe kursus singkat membuat kue kue di hari raya..

Saya, biarpun malas nya minta ampuuuuuunn, sesekali menyempatkan hadir untuk ngambil snack dan makan siang untuk bersosialisasi dan mengambil ilmu2 yang dirasa penting untuk saya. Dalam pertemuan skala besar, biasa nya ketua umum persatuan ibu ini selaluΒ  mengingatkan para istri untuk selalu support suami nya.

Biasanya, kalo habis ikut pertemuan kayak gini, saya jadi ingat mama saya, yang dulu juga sempat menjadi ketua dramawanita darmawanita di instansi tempat bapak bekerja dan berperan aktif dalam tim penggerak PKK.

Saya ingat dulu mama, sebelum mengenakan jilbab,musti tidur siang dalam posisi tengkurap untuk menjaga konde nya tetap utuh di hari hari besar nasional, macam 17 agustus atau hari pahlawan. Karena harus ikut upacara di pagi dan sore hari.. Biarpun saya bilang itu menyiksa diri, tapi mama ikhlas menjalaninya karena semua ini dia lakukan demi men support suami.

Meskipun perkumpulan istri karyawan dirasa efektif untuk mendukung karier suami, tapi saya cukup bersyukur bahwa di kantor suami tidak ada keharusan untuk itu, toh saya tetap mendukung karier suami saya.πŸ˜›

Sampai kemaren saya terhenyak ketika kemaren malam suami cerita kalo siang tadi dia di panggil ibu bos. yeay, GM di tempat suami saya bekerja adalah seorang wanita! you go girl!!:mrgreen: . Alhamdulilah *sujudsyukur*, suami di beri amanah yang lebih besar dari sebelumnya. Kali ini suami harus bertanggung jawab langsung ke ibu GM ini. Dan ibu GM sempat bertanya sama suami, tentang keluarga kecil kami yang berjauhan ini. Blio bertanya apakah kondisi ini berpengaruh terhadap semangat kerja suami, karena nantinya si ibu GM bakalan meminta yang lebih banyak sama si Pak suami ku tercinta ini.

Menurut bu GM, suami akan di tempatkan di Area kerja Jakarta Bagian Barat, which is tersebar dari jakarta barat – tangerang – cilegon – merak Dengan waktu kerja yang lebih flexible karena absensi tidak terlalu diperhitungkan disini. oia, Flexible : bisa masuk lebih siang, bisa lebih pagi, bisa sampe larut malam.:mrgreen:

Lihatlah bagaimana tangan Allah bekerja, membuat kami lebih dekat. Ayah di jakarta bagian barat dan saya di lampung selatan. Sehingga kami cuma terpisah oleh selat sunda!!πŸ˜€

Sungguh saya sangat bersyukur dengan semua anugerah yang Allah berikan ke keluarga kecil ini. Anak yang sehat dan cerdas, suami yang penyayang, orangtua yang masih bisa menemani saya di usia mereka yang semakin senja – sehingga saya berkesempatan pula untuk menjaga mereka di hari tua mereka.

Hidup berjauhan seperti ini, meskipun berat dan meski tak henti saya meminta untuk bisa berkumpul dengan suami, tapi semoga ini tidak menjadikan saya lupa mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan..

Alhamdulilah…

 

17 Komentar

Filed under husband, myself and I

17 responses to “Kalau memang harus berjauhan..

  1. yetty Mirzano

    Hiks..terharu sekaligus salud saya bacanya mbak..

    semoga tangan ALLAH bekerja lebih cepat utk mendekatkan kalian…

    Tetap semangat ya Mbak..ada bocah pinter yg butuh bundanya

    • putilaksmi

      tks mbak support nya, merinding disko pas baca bagian “ada bocah pinter yang butuh bundanya”..
      makasih banyak… *terharu*

  2. Ngebahas yang kayak gini memang gak bakal ada habisnya selama kita masih jauh-jauhan yah put… Memang kadang rasanya berat, tapi gimanapun, yah yang bisa kita lakukan cuma enjoy aja, demi anak dan suami, supaya mereka juga bisa selalu kuatπŸ™‚

    Soal ibu2 PI itu…hikksss…hikksss….aku juga dah musti aktif, put, di ranting suamiku…haiyaaahhhh padahal malessss banget rasanya ngurusin ibu-ibu. Tapi mo gimana lagi, ini demi memberikan support buat suami tercintaπŸ˜€πŸ˜€

    • putilaksmi

      iyah lisss, ayooo smangaaat. Aku juga bosen cerita tentang sisi sedih berjauhan kayak gini. Makanya ku tulis tulisan ini, ada asem manis *kayak gurame* hidup berjauhan gini..

      Owiyahh, yg tentang kegiatan ibu PI itu, aku juga duluuu sempet kaget harus ikut serta di arisan PI, coz aku karyawati satu satu nya di sini. Jadi musti ‘nemenin’ si ibu ketua PI. Tapi aku bandel lisss, sering ngaburrr, whahahahahhah:mrgreen:

      Kasih aja kegiatan positif macam, cara bikin kue, sulam pita, bahkan kampanye ASI dan membuat MPASI homemade mungkin bisa di share juga coz kuliyat ada juga beberapa yg masih muda..

  3. selamat y non,…
    *sumpah aq ikut seneng denger kalian yg bisa makin deket skr*
    meski nasip q saat ini memang blm bisa sekuat klg mu, tp bener2 kerasa..
    inget diawal aja aq dah mesti terpisah berpulau-pulau *walo di buku atlas tampak sangat dekat* tp suer dehh lampung-papua itu jauuuuuuhhhhh buangggeeeedddd….
    berkali-kali minta pindah pun selalu ajah mental..ada ajah alesan para boss ini yg nggak bisa dibantah *resiko jd kacung gak bisa bantah si Bos euy*
    sering tiba2 nangis gak ngebayang besok2 klo baby dah lahir..halahh…gmn lahh pula nasib kami?!??!

    sering terpintas ceritaan tmn yg ngasih tauk klo salah satu dr pasukan angkatan q akhir na menyerah & resign demi klg na..should i do the same dear God…

    • putilaksmi

      mbak nend emang Aa nya skarang di papuaa??? haah alangkah jauhnya…
      kalau memang mau balik kanan keluar barisan, sebaiknya dipertimbangkan lebih matang mbak.. Apapun keputusan yang diambil. Sebaiknya tidak menimbulkan penyesalan berkepanjangan nantinya…

  4. bekti

    Salut buat bundanya oi… Pernah ngerasain gimana rasanya kalau anak tiba-tiba bangun malam lalu cari ayahnya, huhuhu…. karena Jos pernah kayak gitu ketika ditinggal papanya DL 3 hari, sungguh tidak mudah. Ok, semoga bukan hanya berdekatan lampung-jakarta ya, tapi bisa berkumpul 1 rumah dengan ayahnya Oi…

    • putilaksmi

      kalo Oi mah sudah sering bangun tengah malam gitu jeng.. Dan sebelum Oi lahir (sebelum nikah malah), saya sudah sering denger cerita kayak gini dari teman yg jauhan dg suami. Jadi begitu nikah, ada Oi, jadi sudah siyap siyap..hehehhehe..
      aminnn, amiinnnn… maturnuwun buat doanya..

  5. Selalu salut dengan kuatnya seorang ibu yang menjalani long distance family dengan suami. Tapi memang di posisi apapun, kalau lihat tetangga memang rumputnya lebih hijau. Padahal ya kadang wang sinawang. Apa yang kita lihat belum tentu benar spt adanya. Jadi ya memang benar, harus pandai bersyukur apapun kondisi dan keadaan keluarga kita bun. Tetap semangat!πŸ˜€

    • putilaksmi

      iyah bund, bersyukur dan meyakini, kalau semua yang di berikan Allah ke kita, adalah yang terbaik dan paling pas untuk kita… πŸ™‚

  6. semangath Put walopun kudu berjauh2an dengan suami. Ini pasti jalan terbaik dari Allah SWT.

    Gw salut sama lo. Kalo gw dah nangis bombay tiap hari kalee kalo LDF *jangan ditiru, emak2 kaga kuta mental*

    Btw ada duren buat lo Say. Diambil langsung di rumah gw yah. Moga2 suka. ThanksπŸ™‚

    • putilaksmi

      gimana ngambil awadnya?? gw katro nih masalah gitu gitu an.. ntar gw ambil deh san..

      Ah elo biarpun gak LDF, tapi kan tetep juga jarang ketemu si Ayah zahia..

      semangat ah san!! dan hayuuuk saling menguatkan..

  7. hix hix….senasib*
    sama bgt bun,pgn rasanya bs melayani suami.aplg saya yg malah berpisah dg anak dan suami & keluarga.kebalikan.
    tp ttp semangat..smua demi masa depan.jalani apa adanya dan bersyukur.
    semangat bun

  8. Masih idem dengan dirimuw tentunya mbakyu…
    perasaan itu smua…

  9. Awalnya berat, tapi lama-lama jadi terbiasa jeng, itu juga yg terjadi sama kami. Hikmahnya banyak bgt, yg pasti serasa jadi newlyweds terus karena jarang ketemu dan jadi jarang malah hampir gak pernah berantem, karena sayang aja waktu yg sedikit diisi dengan hal yg gak penting, iya gak?πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s