Java Road trip (part 2)


Kamis, 27 Januari 2011

Kita bangun dari tidur yang sangaaaaaat nyenyak. Gimana gak nyenyak?? nyaris setiap hari kita jalan jauh. sabtu lampung bekasi – bekasi cilacap. senin cilacap jogja. selasa jogja cilacap. rabu cilacap – kendal.. Tapi tenang temans, capeknya gak kerasa coz hati ini rasanya seneeeng banget..

Oia, hari ini kita mau nganter eyang bapak kontrol rutin ke RSI Sult4n Agung Semarang, sambil mampir ke beberapa rumah saudara di semarang. Biar gak kesiangan, kita berangkat jam 7 dari kendal. Lagian, ngepas-in sama jadwal test darah eyang bapak (yang hanya boleh puasa maksimal 14 jam).

Lama gak ke  semarang, cukup takjub melihat betapa crowdednya kota ini. Beberapa sudut kota memang masih terlihat sama seperti dulu. Sampai sampai saya masih bisa membayangkan saya, yang masih berseragam putih biru- berjalan tergesa dari sekolah ke tempat kursus. Masa SMP memang jadi masa tersibuk saya, mengingat kala itu saya hanya tinggal dengan mas bas dan pembantu (Bapak dan mama di Kalimantan), maka untuk ‘membunuh sepi‘ saya memilih mengikuti bermacam macam kursus sepulang sekolah. Mulai dari les vocal tiap senin, bahasa inggris selasa – kamis – sabtu, les keyboard tiap rabu, dan ekskul paduan suara setiap jumat. Itu belum termasuk bimbingan belajar di malam hari pada  senin – rabu – jumat. Belum lagi jadwal sekolah yang dimulai di jam ke 0 (06.15) dan berakhir pada jam 15.00. meskipun begitu, saat itu saya merasa cukup enjoy mengikuti berbagai kegiatan itu. Daripada kesepian di rumah…😦😦

Beberapa sudut kota juga mengingatkan kembali pada masa masa awal ‘jadian’ sama ayah – nya syauqi, Ehm!!.:mrgreen: . Inget jaman olahraga / jalan pagi ke simpang 5 dan makan bubur ayam semarang, Inget jaman kesasar dan mintak jemput waktu pulang ke semarang di jaman awal kuliah, Inget waktu makan sate berdua di trotoar sepanjang jalan gajahmada, Ingat makan gorengan yang gak enak tapi murah di depan kampus si Ayah.. Aihh, rasanya baru kemaren melewati semuanya..

Akhirnya sampai juga di RSI Sultan AGung. Disana kita cuman nge dropp aja karena memang tahapan pemeriksaan yang dilalui memakan waktu yang tidak sebentar. Dari Sultan Agung, kita menuju Jl. Pandanaran, boleh dibilang di sepanjang jalan pandanaran – kita bisa beli beraneka macam oleh oleh khas semarang, mulai dari lumpia – bandeng presto – wingko babad, bahkan bakpia – yangko dan mochi yang khas jogja itu juga banyak dijual disini. Di sana kita beli beberapa bandeng presto pesenan temen kantor Ayah.

Setelah dapet bandeng presto yang kemasan press (kedap udara – dengan selisih harga 5 ribu konon lebih tahan lama dibanding yg kemasan biasa ), Kendaraan kami meluncur ke semarang barat. Kami ingin melanjutkan nostalgia hari itu dengan mengunjungi rumah Budhe saya (kakak dari Bapak) – tempat dimana si Ayah dulu nge kos semasa kuliah.. Bisa ditebak, bagaimana cara kami berkenalan dan bagaimana bisa berlanjut sampai sekarang kan??😉 *malu ah*

Rumah itu masih seperti dulu, kecuali rumput yang meninggi dan halaman yang tidak terawat. Duluu, rumah ini selalu ramai karena banyak sekali saudara dan kerabat yang memilih untuk tinggal disini selama kuliah, termasuk suami. Apalagi saat itu adalah masa jaya usaha catering budhe, saya jadi ingat kalo lagi banyak pesenan, seluruh anak kos akan berjibaku membantu budhe memenuhi pesanan catering itu. Ada yang bagian bakar ayam, lipat + steples kardus snack, bantuin bikin dan nyusun kue (risol-sosis solo). Ada juga seksi transportasi yang anter jemput budhe ke pasar buat beli bahan catering, public relation yang survey gedung- sewa piring gelas, dll juga ada.

Karena itulah kami sering bertemu. Saya yang saat itu kuliah di jogja dan bingung harus pulang kemana saat ada liburan pendek (saat itu bapak masih ber dinas di sanggau- Kal bar). Memilih untuk mengisi waktu libur di tempat Budhe. refreshing – ketemu pacar dan makan enak!!! adalah perpadua yang sempurna saat itu.

Rumah Budhe yang dulu ramai itu, sekarang nampak sepi karena sudah tidak ada lagi saudara maupun kerabat yang nge kos disana. Anak anak budhe pun, karena alasan pekerjaan, memilih untuk meninggalkan semarang. Catering juga sudah tidak seramai dulu – karena dengan alasan usia dan kesehatan – budhe merasa gak mampu untuk handle semua.

2 Jam Kami disana, mengenang sejenak masa masa susah dulu. Bahagia dan bersyukur atas apa yang kami miliki saat ini. Banyak sekali yang di bicarakan sama budhe, tentang kesibukannya sekarang – tentang kondisi kesehatannya yang membaik lepas kemoterapi tahun 2009 lalu – tentang cucu cucu nya yang makin dewasa- dan juga rencana dijualnya rumah kenangan itu.. Ya, pada akhirnya nanti Budhe memilih untuk menjual rumah dan ikut salah satu dari dua orang anaknya. Hal itu dirasa lebih baik – agar ada yang menjaganya di masa tua nya. Sempat bersyukuur sangat karena mama dan bapak ada bersama kami, sehingga kami bisa menjaga mereka di usia mereka yang semakin senja meskipun jujur, tidak gampang untuk tinggal dengan orangtua disaat kita sudah jadi orangtua..🙂🙂

KAmi bahkan sempat nganterin budhe ke pasar (ada pesenan 40 kotak kue sore itu) sebelum akhirnya melaju ke Rumah sakit, menjemput Bapak yang tengah menunggu jadwal konsultasi ke dokter sore nanti jam 4. Kami sempat melirik sebentar ke Mall Paragon, Mall baru yang jadi kebanggaan warga semarang saat ini. Dari luar, memang bangunannya tampak megah – dibanding Mall yang lain, tapi – seperti yang sudah saya bilang di postingan part 1, saya memang tidak tertarik mengunjungi mall saat liburan seperti ini.

Waktu menunjukkan pukul 12 saat kita sampai di RS. Berlima, kami mencari tempat makan yang enak mengingat perut sudah keroncongan dan teriak minta di isi. Apalagi kita punya waktu 4 jam, cukup lama. Eyang bapak usul untuk makan di ” Lombok Idjo” di Jl. Gadjah mada. Menurut bapak, ayam goreng disana enak sekali. Belum lagi disajikan dengan lombok idjo yang unik dan mantap, melengkapi promosi nya, Bapak berjanji mau nraktir makan siang kami hari itu… Ahhhahaaay, siapa yang tidak tertarik…

Sebenernya ada beberapa pilihan makanan yang pengen saya cicipi saat ada di semarang. Biasa nya makanan yang saya cicipi ini adalah makanan yang tidak bisa dibuat oleh eyang mama atau kalau pun bisa dibuat – rasanya gak sama.. hahahhah piss mah.. Pilihan makanannya antara lain nasi goreng babat pak karmin – bakso pak LasiNo di Undip – soto ayam pak No – seafood nikmat rasa di simpang lima (buka malam). Hmm rasanya cuman itu. Tapi karena belom pernah makan di lombok Idjo dan tawaran gratis, akhirnya kami makan disana…

Siang itu – karena bersamaan dengan jam makan siang, jadi keliyatan rameee banget. Pelanggannya pun beragam, mulai dari anak rombongan kantor – keluarga sampai anak kuliahan. Alhamdulilah kami langsung dapet parkir dan dapet tempat untuk makan. Meskipun cuaca panas, alunan lagu jawa dan suasana rumah makan yang menyenangkan membuat kami merasa nyaman disana. Pesanan pun datang tak lama setelah kami pesan. 4 porsi ayam goreng+lalapan, 2 porsi sayur asem dan 1 porsi tempe penyet mengenyangkan perut kita siang itu.  Jempol untuk sayur asemnya yang paaas panget asam manis pedas nya. Ayam nya juga enak+gurih. Tempe penyetnya juga istimewa karena kedelainya masih nampak utuh (saya suka jenis tempe yang kayak gini). Sayang, sambelnya kurang banyak dan tidak pedas… bhuuhuuuhuu😦😦 . Tapi overall, rumah makan ini patut dicoba kalau ada temans yang berkunjung ke semarang. Karena selain enak, harganya pun cukup bersahabat.

Kenyang dan puas makan di Lombok Idjo, kami meluncur ke daerah kota Semarang Atas. Mengunjungi keluarga Bulik (adik  dari Bapak). Melewati Pe el eN Kantor Distribusi Jawa Tengah dan membuat saya teringat beberapa orang teman di lampung yang bermimpi untuk bisa ngantor disini. Semoga mimpi kalian jadi kenyataan , temans?🙂

Keluarga Bulik dan Om cukup kaget juga melihat kedatangan Kami, Ya – karena memang kami tidak memberitahukan rencana kedatangan kami kesana. Bukan apa apa, takutnya setelah kami bilang mau kesana dan mereka disibukkan dan direpotkan membeli makanan ini itu, gak taunya – kami gak jadi dateng karena memang gak sempat. Di rumahnya, Bulik dan Om ditemani anak sulungnya yang baru saja menikah. Sayang kami gak sempat ketemu karena sepupu kami itu sedang kerja. 2 orang anak bulik lainnya kerja di Jakarta.

Jika berkunjung ke rumah saudara – pasti adaaaaa aja hal menarik untuk di temui. Disini syauqi heboh dengan pohon rambutan yang mulai berbuah di halaman rumah Eyang bulik nya. Tambah heboh dia waktu si Ayah berusaha metik rambutan dan mengupas nya untuk syauqi. Meski ‘geli’ dengan penampakan luar rambutan, tapi syauqi doyan sama buah ini.Tak perlu khawatir sakit perut karena buahnya manis dan  perut syauqi sudah terisi roti dan beberapa suap nasi ayam goreng.

Sementara syauqi dan ayahnya sibuk metik rambutan, dan eyang bapak+ mama ngobrol sama Om, saya justru sibuk membantu Bulik di dapur untuk membuat masakan seadanya sebagai makan siang kami. Ya, meskipun perut kami sangat kenyang, tapi kami tak mampu menolak paksaan bulik buat makan siang disana. Bulik rules, “siapapun yang datang ke rumah ini, harus makan disini”..😀😀

Dan siang itu tempe penyet+ telur dadar , sambel terasi dan lalapan kami jejalkan masuk ke perut kami… hahahhahah

Selesai makan dan ngobrol ngalor ngidul, kami pamitan meluncur ke RS sultan agung untuk kemudian pulang ke kendal. Capek + senang plus kenyang sekali rasanya hari itu..😀😀😀

Jumat 28 Januari 2011

Hari ini jadi hari terakhir kami di kendal dalam rangka java road trip di awal tahun ini. Kami memutuskan memajukan kepulangan di Jumat malam setelah ngeri dan merinding disko melihat terbakarnya Kapal Lautan Teduh II tak jauh dari pelabuhan merak. Jika kami pulang Jumat malam dan transit sebentar di bekasi pada sabtu pagi, kita bakalan nyebrang di Sabtu siang. Di siang hari, ombak tidak terlalu besar dan bisa mengeliminasi sedikit kekhawatiran kami selama di kapal.

Sempet uring uringan di pagi hari karena banyaknya barang bawaan yang musti di bawa. Mulai dari beras 20 kilo – 5 bunga gelombang cinta – 2 sisir pisang raja *katanya masak pohon* – 3 kardus oleh oleh dari cilacap. Belum lagi koper pakaian dll. Hadeeeeh, dan tidak ada satupun dari barang itu yang bisa dan boleh diturunkan. Berharap suatu saat nanti punya t0y0t4 4Lph4rd..

hhhhhhh…. sabarrr.. sabarrr..😀😀😀

Buat ngilangin kesel dan jengkel, pagi itu kita sarapan soto ayam. I always luuuv soto ayam semarang. Mangkok nya yang kecil, sehingga bisa nambah, hampir sama dengan soto kudus. Tapi kuahnya bening dan nggak eneg. Paling cocok dimakan sama sate ayam, sate kerang dan tempe goreng yang gariiing banget itu. Di kendal juga ada yang jual soto ayam kayak gini. Namanya soto ayam Dhe No. Disebelah kantor telkom kendal. Warungnya emang sederhana, tapi rasanyaaaaaaaaaa mangstaaap book..😀😀 . Tanpa ragu dan malu, kami pun habis 2 mangkok soto.hahahahahahhaha #ehm, sebenernya saya cuman 1 1/2 porsi siy, ngabisin punya syauqi, anak ini emang gak suka jajan…😦😦

Kelar makan soto, kita berangkuuts ke rumah uyut. Beberapa saudara nampak udah ngumpul disana. Dan benar, Lebaran memang pindah ke hari itu. Seruu sekali ketemu dengan para sepupu yang belum tentu bisa ditemui setaon sekali. Senang mendengar beberapa sudah bekerja dan ada yang sedang merampungkan kuliahnya. Takjub melihat beberapa ponakan sudah semakin besar dan saya bisa jadi tak mengenal mereka kalau ketemu di jalan. hahahahah..

Siang itu, kita cuman makan nasi+rica rica bebek, makan rujak bareng dan minum es kopyor bareng. Menu yang sederhana tapi jadi terasa nikmat karena suasana nya juga menyenangkan. Syauqi juga nampak akrab dengan sepupu sepupunya. Dia nampak gak ragu untuk mencium, membelai lembut dan memeluk sepupunya yang lebih kecil… Makasih Nak? buat kerjasamanya.. heheheheh

Siang berganti sore dan kami segera pamit pulang untuk mandi dan bersiap berangkat menuju bekasi. Bahkan sampai menjelang keberangkatan kami pun, masih ada saudara yang dateng ke rumah untuk sekedar bertemu dan berbagi kabar..

Malam itu juga, mobil bergerak menuju bekasi untuk kemudian ke lampung. . Ntah kapan lagi bisa meluangkan waktu untuk berlibur ksana.. Dan Alhhamdulilah perjalanan lancar sampai kembali ke lampung. Meskipun ada insiden ombak besar di selat sunda sehingga di kapal ada mobil yang menghantam mobil lainnya tak jauh dari tempat kami parkir- buat pengalaman supaya lebih hati hati kalau mau meninggalkan mobil di kapal – jangan lupa hand rem yang kuat.🙂,.

7 Komentar

Filed under kalo kita lagi ngumpul, syauqi ku, travelling

7 responses to “Java Road trip (part 2)

  1. Wah, asik banget ud bs ngasih lanjutan cerita liburan…aku yg duluan liburan smpe skrg aja g kelar2 laporannya, hehe…

    Tau gak sih, Put, aku jg wkt kmrn dr mdo bawa bunga gelombang cinta 2 biji ke palembang…xixixixi…

    Liburan yg seru ya Put..semoga di waktu2 ke depan bakal ada ksmpatan utk Java road trip lagi😉

    • putilaksmi

      aminn, selalu berharap untuk bisa pulang kampung tiap tahun.. Aih, dirumah sekarang ada 6 pot gelombang cinta!!! #terpikir untuk bisnis jual beli taneman aja deh.. hahaha

  2. Put, gw belom selesei bacanya neh. ga khusyu gara2 Zahia minta maen sepeda di luar. Tar gw mampir dimari lagi yah Say

    Kiss kiss buat Mas Oi yang makin imut ajaaa🙂

  3. Loh dulu SMP 3 Semarang yah? Wah deket tuh ama rumahku😀
    Dulu SD ku persis di belakang SMP 3. Adekku jg SMP nya disitu.
    Wah kl tau gitu kemarin aku nitip bawain es marem kampung kali hehehe…

    • putilaksmi

      weeh, es marem yaa? aku juga sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget sama es marem yang disitu..
      uenaaaak pooool…

      kemaren gak sempet nyoba, waktunya mepeet.. kapan kapan pengen bikin sendiri ah… heheheheh

  4. Ping-balik: Lebaran 1432 H #4 | when live is like come by to have a drink…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s