Dan… kenapa jakarta??


Hehehe.. Sambil nungguin mobil yg diservis dalam rangka mau dibawa pindahanπŸ™‚πŸ™‚ Lagi ribeeeet banget packing. Apalagi besok pagi, barang sudah mulai dibawa menuju jkt. Masih inget deh, dulu berangkat ke lampung cuman bawa 1 koper gede warna hitam, yg untuk menutupnya saja, bapak musti duduk diatasnya, supaya isinya memadat..πŸ™‚πŸ™‚
Bahkan catatan baju dan perlengkapan apa saja yg dibawa ke lampung juga masih ada.. Dan belum lupa, rasa sedih waktu bis putera remaja yang membawa saya mama dan bapak dari kendal menuju lampung, bergerak meninggalkan jakarta. Sedih karena saya tau, mimpi saya ada disitu, bersama lelaki yg kelak dipanggil ayah oleh anak saya..

6 Mei 2006, pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke tanah sumatra. Lampung tepatnya. Sangat bersyukur karena jaraknya tidak jauh dari jakarta, dan bisa dijangkau dengan perjalanan darat..

8 Mei, sementara saya ke kantor, mama dan bapak sibuk mencari kost buat anak bungsunya ini. Dan alhamdulilah, langsung dapet kost dipinggir jalan raya, dengan luas kamar 4 x 4 dan kamar mandi dalam. Mama langsung beberes, dan melengkapi kamar itu dengan kipas angin duduk dan tv 14″. Sementara saya di kantor, malu banget saat ditanya, “kesini sama siapa?”. Dan terpaksa menjawab, “Dianter orangtua”. Sebenarnya tidak ada kesulitan dalam menyesuaikan diri selama dilampung, masyarakatnya beragam. Untuk saya yang pernah mencicipi hidup di kalimantan selama 3 tahun, jujur lampung ini lebihh ramee, dan saya nyamaan pleus aman tinggal disini.

Desember 2007, memilih untuk menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga yg berjauhan, berikut segala konsekwensi yang nantinya akan timbul. Berusaha memantapkan hati, meyakini bahwa kami mampu melewati nya, entah sampai kapan…

November 2008, 2 tahun tinggal dan menetap di kost ( saya bahkan menghabiskan 8 bulan masa kehamilan di kost), akhirnya kami memutuskan untuk sewa rumah seiring dengan lahirnya Oi pleus the eyangs yang memilih untuk ‘momong cucu’ di lampung. Kita sewa rumah tipe 45 di sebuah perumahan yg aksesnya mudah di jangkau. Pengurus masjidnya aktif menyelenggarakan kegiatan keagamaan, sehingga eyang2 oi punya kegiatan positif di waktu senggang..

Di kontrakan ini juga, saya mulai belajar ngantor naek motor!! Hahahaha, salahkan Bapak dan mas Bas yg overprotective karena selalu melarang saya buat naek kendaraan sendiri. Alhasil, tanjakan kantor jadi saksi bisu motor saya yang jumping akibat saking ahlinya saya.πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚ . Alhamdulilah, selain sobek dikit pada sepatu, lecet lecet pada bagian spion dan kemudi motor pluuuus rasa malu yang luaaaarrrrr biasa krn dikerubutin orang orang, gak ada luka luka yg berarti…

Mei 2009, kali ini berpindah tugas ke Sidomulyo. Dan Alhamdulilah, punya mobil pertama yang tentu saja tidak diambil dari dealer mobil,πŸ™‚πŸ™‚ . Tantangan baru karena anak yang dimanja sangat ini harus berani nyetir bolak balik 100 kilo per hari.

Tahun 2009, juga mendebarkan karena harus berkompromi dengan sakitnya bapak. Menggedor pintu rumah tetangga jam 4 dini hari karena bapak jatuh di kamar mandi, hunting obat injeksi untuk menaikkan hb – bapak sampai jam 11 malam, hunting dokter spesialis penyakit dalam sub spesialis ginjal.. Semua itu harus saya lalui ditengah penat dan letih sepulang kerja. Belum lagi mencurahkan double perhatian untuk Oi. Berperan sebagai ayah sekaligus ibu, di senin sampai jumat. Mendidiknya untuk mandiri dan tangguh serta memaksanya untuk memahami kondisi ini.😦

Baru 2 bulan umurnya saat kami membawa oi menyebrangi selat sunda, menuju lampung. Tak ingin mengeluhkan ini dan memasang tampang sedih, krn saya sudah berjanji, apapun konsekwensinya, saya harus tetap tegak brdiri dan mensyukuri apa yang kami miliki, hingga saatnya tiba. Memahami bahwa semua nikmat dan kemudahan yang diberikan adalah rejeki dari Allah. Dan selalu mengucap syukur atas hal yang paling sederhana yang saya terima. Ya, saya meyakini, bahkan mendapatkan tempat parkir di kantor yang penuh sesak dengan kendaraan adalah (juga) rejeki.

2010, alhamdulilah, kita punya rumah sendiri.. Tidak besar juga tidak mewah, namun cukup untuk bernaung kami. Bukan pula mudah mendapatkannya, rasanya semua tabungan terkuras habis, bahkan minus… hehhehehe.. Banyak yang bertanya, apakah kami berniat menetap di lampung, mengingat adanya rumah.. Kami tak bisa mengiyakan.. lampung memang sangat nyaman bagi kami, udara dan cuaca bersahabat, transportasi mudah, fasilitas kesehatan lumayan, bahkan kami tak perlu repot mencari sekolah yang kami rasa cukup baik untuk si tole yang akan masuk play group pada 2011

Note :Β  postingan ini sempat tersimpan di draft selama semalem. Mobil kelar diserpis dan saya pun sibuk dalam dunia per packingan dan goody bag untuk perpisahan oi di sekolah ( cerita menyusul )….

Okay, kembali ke judul…

Dan.. kenapa jakarta?

Beberapa kali saya dengar teman berkata terang terangan pada saya. Jakarta macet, polusi, terlalu padat dan semua sisi negatif dari kota itu yang bahkan saya pun sudah mengetahuinya dan merasakan sendiri. Saya pernah jadi job seeker di kota itu, dengan segala keterbatasan yang ada pada tahun 2005 , meskipun Saya tau, dalam 7 tahun terakhir, pasti banyak sekali perubahan yg terjadi..

Beberapa bahkan menanyakan, mau bangun jam berapa nanti tiap hari? Berapa liter bensin yang dihabiskan per hari nya? Belum lagi biaya tol? Masih bisa kah masak special untuk memanjakan suami dan anak?

Hmmmm, saya bahkan bisa menambahkan daftar pertanyaan dan kekhawatiran, jika saya mau.

Tapi sama seperti saat memutuskan untuk menjalani pernikahan berjauhan pada 2007 lalu, kali ini saya pun memilih diam. Percuma berbantah karena saya pun tidak tau apa yang akan saya hadapi nanti. Saya percaya, Allah yang akan beri kemudahan. Saat ini saya cukup mensyukuri kesempatan untuk tinggal di kota itu, dan menikmati kebahagiaan bisa berkumpul dengan suami dan keluarga besar.

Ada ayah, saya, oi, eyang mama, eyang bapak, mas bastian,bram dan mbak dian.. smua ngumpul di kota itu.. hmmmm serasa memindahkan Kendal ke jakarta…

Dan… kenapa Jakarta??

Karena pada awalnya, saya pun tidak pernah bermimpi untuk tinggal disana. Hanya cita cita dan cinta yang menggerakkan kaki kesana, dan atas izin Allah yang akhirnya mempermudah langkah kami.

πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚

5 Komentar

Filed under Uncategorized

5 responses to “Dan… kenapa jakarta??

  1. mau dimanapun kita berada walau semacet apapun yang penting bersama dengan keluarga inti apalagi ada keluarga besar disekitar kita, rasanya sesuatu bangettt

    impianku malah Jekardah tapi apa daya cuma jadi Job Seeker doank disanaπŸ˜€
    πŸ˜† *ngakak dulu ach*
    tiap orang beda2, kalau harus dianter ortu kenapa harus malu, seenggaknya gak terlalu capek cari kost2an kanπŸ˜‰
    tapi dulu angkatan q tak ada satu pun yang dianter ortuπŸ™‚

    yang pasti….selamat ya….langkah baru akan segera dimulai
    eh jekardah di unit mana?

  2. Terus terang kalo soal Jakarta, aku pun tak pernah berkeinginan mo tinggal di sana, Put…ngebayangin crowded-nya bikin aku pusing duluan, hehehe… Tapi sebenarnya di manapun asal kita mau menyamankan diri, pasti bisa nyaman2 aja ya Put. Dan hidup pun selalu penuh dengan konsekuensi, baik atau buruknya lebih banyak tergantung dari bagaimana kita menyikapinya…

    Selamat pindah, Puti!!

  3. Semoga suamiku bisa cepet nyusul kamu ya Put….. Amin…. hehehheπŸ˜€
    senengnya ya, akhirnya penantian panjang untuk berkumpul dengan suami sudah terwujud. Alhamdulillah… Sukses ditempat baru ya.

    btw, kantor kita sebelahan ya.., semoga someday bisa ketemu ya. Suka banyak orang PLN tuh yg makan dikantin siniπŸ˜€

  4. Jadiiii..sekarang di Jakarta tinggal dimana bun?πŸ™‚

    • putilaksmi

      Rumah tanpa halaman di sepanjang jalan perintis kemerdekaan bund..πŸ™‚ , 10 kilo dari kantor, dan jangan tanya berapa jam rumah kantor… monggo mampir …πŸ™‚πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s